NET

Media Cetak Punah?

koran

Republikdigital.com – Perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi yang sangat pesat mengubah dunia jurnalisme. Internet mengubah cara penyampaian informasi dan format pemberitaan. Internet telah mengubah dunia informasi secara revolusioner.

Internet praktis menghancurkan peranan ruang redaksi sebagai gate keeper informasi. Wartawan kini tak memiliki peranan buat menentukan apa yang perlu diberitakan, apa yang tak perlu.

Dengan teknologi digital, informasi  sangat mudah dan murah untuk diproduksi dan disebarkan. Dampaknya, terjadilah ledakan data dan tsunami informasi.

Pasokan informasi yang membludak tersebut membuat masyarakat kesulitan menyaring berita. Informasi yang dapat dipercaya dan tidak campur menjadi satu. Manusia tenggelam dalam lautan teks, audio dan video.

Sekarang, setiap orang bisa menjadi wartawan sekaligus penerbit lewat blog. Setiap orang bisa menjadi penyiar sekaligus produser lewat YouTube. Lewat Facebook atau  Twitter, setiap orang juga bisa menjadi komentator atau pengamat.

Dulu, sepuluh tahun yang lalu, hal-hal di atas mustahil untuk dilakukan. Mahalnya harga mesin cetak membuat tak setiap orang mampu menjadi penerbit surat kabar. Untuk membangun stasiun radio dan tivi juga dibutuhkan modal yang tidak sedikit.

Berita tentang manusia menggigit anjing dulu hanya bisa dibaca di koran/majalah. Sekarang, artis potong rambut sekalipun, kita bisa langsung mengetahuinya. Teknologi digital telah mengubah semuanya.

Sepuluh tahun yang lalu orang masih mendengarkan musik dengan menyetel kaset.  Sepuluh tahun yang lalu orang masih memotret dengan film. Dan sepuluh tahun yang lalu orang masih membeli tivi tabung. Kini?

Nasib Media Cetak

Lantas bagaimanakah nasib media cetak sekarang dan yang akan datang. Apakah dia akan punah?

Perdebatan tentang masalah ini sudah lama diwacanakan. Ada dua aliran besar. Satu pihak percaya media cetak akan tetap ada. Pihak yang lainnya percaya media cetak akan punah, kalaupun tidak punah akan menyusut drastis.

Pihak yang percaya media cetak akan tetap ada beralasan bahwa kertas adalah peradaban kuno manusia yang sudah teruji oleh waktu. Manusia akan tetap tergantung sama kertas. Buktinya, printer sekarang malah kian beragam. Selain itu, kondisi infrastruktur teknologi informasi di negeri ini juga masih semrawut. Kecepatan akses internet masih putus nyambung.

Pihak lain yang percaya media cetak akan punah/menyusut drastis beralasan bahwa telah ditemukan teknologi pengganti kertas yang memudahkan manusia untuk memproduksi dan mengakses berita. Diciptakannya tablet dua tahun yang lalu adalah buktinya. Betul masih ada keterbatasan tapi teknologi informasi itu berkembang sangat cepat.

Dari dua pendapat di atas, manakah yang benar?  Biarlah waktu yang akan menjawabnya.

Newsweek Warning

Pada tanggal 18 Oktober 2012, Tina Brown mengumumkan bahwa Newsweek akan berhenti menerbitkan edisi cetak. Dengan edisi terakhir tanggal 31 Desember 2012 dan akan bertransisi ke format serba digital.

Newsweek berdiri pada 17 Februari 1933. Majalah ini oplahnya kedua terbesar di Amerika Serikat setelah Time dalam sirkulasi dan pendapatan iklan.

Apa yang terjadi pada Newsweek di atas, jelas bisa juga terjadi pada media cetak manapun. Dan saat era itu datang, rasanya sulit dicegah oleh siapa pun. Bukan menakut-nakuti, kasus Newsweek harus menjadi peringatan bagi pebisnis media cetak. Perubahan zaman meski disikapi dan dicermati dengan baik.

Sekarang, kalau mau buka data, adakah media cetak yang oplahnya terus naik dalam lima tahun terakhir. Kalaupun ada, lebih banyak mana, media cetak yang oplahnya naik atau turun.

Tanyakan juga pada generasi muda. Apakah mereka membaca media cetak? Seberapa sering mereka membaca media cetak? Lebih banyak mana, membaca media cetak atau internet? Jawabannya akan sangat mencengangkan.

Era Digital

“Web sudah menjadi kultur global, setelah jeans dan Coca cola, “ kata Budiono Darsono (CEO, detikcom) di PCplus dalam acara diskusi ‘Trend Media Digital di Era Mobile Data’ di Jakarta (5/12).

Budiono mengungkapkan bisnis media tidak akan mati dengan kehadiran digital media. Tapi hanya akan berubah bentuk dari print media menjadi media digital.

“Bisnis media tidak akan pernah mati. Yang mati hanya bentuk fisiknya saja, yakni dari dalam bentuk print media, berganti menjadi media digital,” kata Budiono Darsono di telsetnews dalam acara yang sama.

Kapan terakhir anda beli koran?

(DPS)

Most Popular

To Top