Headline

Simbol Kemenangan Digital atas Analog

apple-saham-2015

REPUBLIKDIGITAL.com – Wall Street Journal mengabarkan saham Apple naik 1,9% menjadi $122,02, Selasa (10/2). Kapitalisasi pasarnya menjadi 710,7 miliar dollar. Sejak penawaran saham perdana pada Desember 1980, nilai pasar Apple telah naik lebih dari 50.600%.

Apple menjadi perusahaan pertama sepanjang sejarah yang memiliki nilai pasar di atas 700 milyar dollar, sekitar 8.850 triliun rupiah. Sebuah nilai yang sangat fantastis. Nilai tersebut nyaris 4,4 kalinya APBN Indonesia. APBN Indonesia tahun 2015 sebesar 2.039,5 triliun rupiah.

Perusahaan kedua yang memiliki nilai pasar besar adalah Exxon Mobil. Nilai pasar raksasa minyak ini hampir setengah kali nilai Apple. Nilai pasar Exxon sebesar 383 miliar dollar, sekitar 4.830 triliun rupiah.

Selain Apple, dua raksasa digital lainnya, Google dan Microsoft juga membukukan nilai yang sangat bombastis. Nilai pasar Google sebesar 365 miliar dollar (4.615 triliun rupiah) dan nilai pasar Microsoft sebesar 349 miliar dollar (4,363 triliun rupiah).

Nilai pasar Apple yang mengalahkan Exxon menjadi tonggak baru dalam sejarah dunia digital. Ini adalah simbol kemenangan perusahaan digital atas perusahaan analog.

Selama ini, dunia digital masih dianggap sebagai dunia yang penuh teka-teki. Ekosistem bisnis di dunia digital masih dianggap belum matang. Tingginya antusiasme masyarakat sering tak sebanding dengan tingginya investasi yang dikeluarkan. Investasi tinggi, pendapatan rendah. Tidak banyak perusahaan yang mampu bertahan lama di bisnis ini.

CEO Apple, Tim Cook telah menemukan jalan. Ia adalah sosok yang luar biasa di balik fenomena 8000 triliun ini. Setelah ditinggal Steve Jobs, Tim Cook mampu membawa Apple ke puncak kejayaan tertinggi.

Show me the money? Bagaimana strategi Tim Cook dan apa resep kesuksesannya?

Pertama, Tim Cook berani melawan arus. Seperti slogan Apple, think different. Tim Cook mengabaikan keyakinan umum perusahaan-perusahaan besar yang percaya bahwa konsumen Cina sensitif terhadap harga.

“Itu hanya bualan. Tidak benar,” kata Tim Cook seperti dikutip Wall Street Journal di acara konferensi Goldman Sachs Technology and Internet di San Francisco, Selasa (10/2).

Pertambahan kalangan menengah di Tiongkok tidak bisa dianggap remeh. Ini adalah potensi pasar yang besar bagi Apple untuk memasarkan produknya. Terbukti, strategi Apple menjual produk mahal ke konsumen Cina sukses. Tiga bulan menjelang tahun 2015, penjualan Apple di Tiongkok Daratan, Hong Kong dan Taiwan tumbuh 70%.

Kedua, inovasi dan kreatifitas tanpa henti khas Apple. Dua hal tersebut melahirkan kekuatan desain Apple yang wow.

Di bulan September, Apple memperkenalkan iPhone model layar lebar. Layar lebar iPhone ini mampu memicu peralihan pengguna smartphone dari produk pesaing atau iPhone lama.

Menurut data penelitian Canalys, Apple bisa menjual lebih banyak smartphone dibanding perusahaan manapun di Cina. Dalam kuartal terakhir tahun 2014, Apple mampu menghalau tekanan agar Apple mau menjual smartphone murah di pasar Cina. Penjualan iPhone di periode ini justru tumbuh dan berhasil membukukan rekor laba kuartalan sebesar $18 miliar.

Terakhir, Cook mengaku bahwa ia tak mempercayai “hukum angka besar”. Konsep bahwa tingkat pertumbuhan melambat kala suatu perusahaan bertumbuh kian pesat itu adalah “dogma” yang tidak benar. Dengan nilai pasar Apple, Tim Cook memang mampu membuktikan kekeliruan hukum angka besar tersebut.

Di Indonesia, masih banyak yang menganggap produk Apple terlalu mahal (overprice). Jika apa yang terjadi di Tiongkok itu merembet ke sini, bukan tidak mungkin kejayaan Apple masih akan bertahan hingga beberapa tahun ke depan. Piye?

(@RDCnews)

Foto : indo.wsj.com

Most Popular

To Top